Kamis, 24 Januari 2013

Cinta Habibie pada Ainun

Ibu Ainun Habibie sang mantan ibu negara wafat pada tanggal 22 Mei 2010, sudah hampir setahun yang lampau.  Bapak B.J. Habibie sang mantan Presiden RI menikahinya pada tanggal 12 Mei 1962. Usia pernikahan selama 48 tahun dilalui dengan penuh makna, 
melahirkan keturunan yang sukses dan berguna, membuahkan amal yang luar biasa bagi bangsa. Keturunan yang sukses dan amal yang luar biasa tak lepas dari kehidupan keluarga yang sakinah di bawah naungan tuntunan agama.

Tulisan ini sekedar pengantar untuk sebuah puisi cinta karangan Bapak B.J. Habibie untuk isterinya tercinta  yang telah mendahuluinya. Sebuah puisi yang memberi pengajaran tentang cinta yang dewasa, cinta yang menumbuhkan dan cinta yang menyempurnakan satu sama lain. Cinta yang tak berlebihan, karena orang yang di cinta pada dasarnya bukan mutlak milik kita.  Hampir setahun lalu puisi ini dibuat, namun rasanya aura cinta sejati yang hadir ketika membacanya tak pernah lekang oleh waktu. Semoga terinspirasi…..

PUISI HABIBIE (tanpa judul)
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.  Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
BJ.HABIBIE
Membuat puisi cinta dengan aura cinta sejati seperti di atas tentu tak perlu menunggu pasangan kita pergi mendahului. Anda bisa mulai dari sekarang untuk mengungkapkan rasa cinta pada pasangan hidup, tentunya tidak harus dalam bentuk puisi. Cintai pasangan Anda dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sinari dia dengan cahaya  cinta yang berbentuk Pengertian, Kebaikan, Kerja sama, Dukungan, Romantisme dan kebaikan-kebaikan lainnya. Lalu suatu saat Anda akan menemukan dia selayaknya batu permata yang berkilau menanti dengan setia dan siap bertahan menghadapi tantangan hidup bersama.

0 komentar:

Posting Komentar

Please Comment!!